Feeds:
Posts
Comments

Jadilah Seperti Pohon

Saya teringat ajaran Al Huang Chung Liang, seorang Tai Chi master yang lebih menekankan perasaan daripada teknik .
Al Huang Chung Liang mengajarkan murid2nya untuk belajar merasakan, bahwa diri mereka adalah sebuah pohon, mereka boleh memilih pohon apa saja yang mereka sukai.

Lalu, mereka hening, diam, memejamkan mata, bernapas perlahan, relax, dan membayangkan bahwa mereka adalah sebuah pohon.
Pohon yang kuat berakar kedalam tanah, ditimpa terik matahari, dihembus badai, disiram hujan lebat, sendiri di gelap malam, daun2 gugur, cabang2 patah, tetapi, pohon tetap diam, bersyukur, dan terus tumbuh kuat.

Banyak yang bisa dipelajari dari menjadi sebuah pohon.
Pohon selalu tumbuh keatas, kearah cahaya. Jika ada yang menghalangi, cabang akan membengkok, namun tetap tumbuh kearah atas.
Pohon tetap kuat dan sabar melewati hujan badai, panas terik,musim gugur, tetapi, tetap bersemi kembali.
Pohon selalu ramah memberi teduhnya atau buah2an nya kepada semua mahluk.
Pohon tetap tumbuh, tidak perlu pujian atau tepuk tangan.
Pohon selalu taat, disuruh tumbuh tinggi atau rendah, berbunga atau berbuah.
Atau, jika berdiam cukup lama dibawah pohon, terdengar irama daun, terlihat tarian dahan yang ber beda2 pada setiap pohon.

Ternyata, didalam Mazmur 1:3, juga disebutkan, ” And he shall be like a tree”

Dan ini:
Character is like a tree,
Reputation is like its shadow,
The shadow is what we think of it,
The tree is the real thing.

Whispers

The man whispered, “God, speak to me” and a meadowlark sang.
But, the man did not hear.

So the man yelled, “God, speak to me” and the thunder rolled across the sky.
But, the man did not listen.

The man looked around and said, “God let me see you.” And a star shined brightly.
But the man did not see.

And, the man shouted, “God show me a miracle.” And, a life was born.
But, the man did not notice.

So, the man cried out in despair, “Touch me God, and let me know you are here.”

Whereupon, God reached down and touched the man. But, the man brushed the butterfly away .
And walked on.

The Guest House

This being human is a guest house.
Every morning a new arrival.

A joy, a depression, a meanness,
some momentary awareness comes
as an unexpected visitor.

Welcome and entertain them all!
Even if they’re a crowd of sorrows,
who violently sweep your house
empty of its furniture,
still, treat each guest honorably.
He may be clearing you out
for some new delight.

The dark thought, the shame, the malice,
meet them at the door laughing,
and invite them in.

Be grateful for whoever comes,
because each has been sent
as a guide from beyond.

-Rumi

Who Am I?

Sepanjang sejarah manusia pertanyaan ini sering dilontarkan. Kebanyakan akan menjawab, aku adalah si A, umur sekian, atau ada juga yangmengidentikkan dirinya dengan jabatannya, aku adalah seorang dokter, insinyur,direktur, artis, dll dll.
Dilihat dari sisi dunia, jawaban tsb tidaklah salah.
Tapi, bagi sebagian kecil orang jawaban itu tidak memuaskan hati. Mengapa? Karena, manusia seutuhnya bukan hanya yang duniawi, nyata, yang kelihatan saja, namun ada dimensi lainnya. Bukan hanya dimensi horisontal, tapi ada dimensi vertikal, kedalaman, yang tidak nampak di permukaan.

Kita akan berusaha mengenali yang tidak nampak itu.

Banyak orang bertanya skeptically, apa benar ada dunia yang tidak kelihatan itu? Biasanya saya akan balik bertanya, ‘ Tiap hari kamu menghirup udara, apakah udara itu kelihatan?’  ‘Tidak kan?’ ‘Tapi engkau dapat merasakan manfaat udara.’ Begitu juga dengan dunia yang tidak nampak itu. Banyak nama disebutkan, tergantung geografis nya. Ada yang menyebutnya Energi, Chi, Tao, Mind, Atman, Spirit, Roh, Jiwa, Tuhan, God, Being, dll dll.

Sewaktu saya masih kecil, saya tinggal dirumah tua yang besar sekali untuk ukuran sekarang. Disalah satu ruangan yang agak gelap, banyak ditaruh lemari2besar yang tidak terpakai. Dan beberapa dari lemari2 tsb. Memiliki cermin yang besar2. Saya sering berdiri didepan kaca tsb. Dan melihat diri saya, dan bertanya, ‘siapakah kamu? ‘ Mengapa engkau ada disini?’ Lama saya menatap, tapi tidak pernah ada jawaban.
Kemudian saya bisa membaca, dan mulai membaca cerita anak2 seperti putri salju dsb nya. Lalu ketika saya berdiri didepan kaca saya sering mencubit lengan saya sendiri dan berharap bahwa saya sedang bermimpi, dan bisa bangun ditempat lain, dan menemukan jawaban. Tapi saya tidak pernah terbangun.

Pertanyaan2 itu terus terbawa masa. Banyak buku yang saya baca, tapi tidak bisa memberikan jawaban yang memuaskan, biarpun saya mulai tau, bahwa manusia ini tidak hanya phisical body saja, tapi ada yang namanya mind, pikiran, perasaan, atau lebih dikenal dengan istilah, body, mind & spirit.
Tapi kenal saja tidak memberikan jawaban yang memuaskan saya.
Jawaban nya saya temukan lk 35 tahun kemudian. Di dalam buku Bhagawad Gita.
Disitu ada tanya jawab;
‘Rumah siapakah ini?’
“Rumahku”
‘Baju siapakah ini?’
“Bajuku.”
‘Badan siapakah ini?’
“badanku”
Lalu siapakah aku, yang tinggal didalam badan ini?

Pertanyaan itulah yang menyadarkan saya!
Ah, rupanya itulah AKU yang sebenarnya. AKU yang tidak nampak, tapi mempengaruhi semua pikiran, perasaan & perbuatan.
Tapi, jawaban itu memicu lebih banyak lagi pertanyaan.
Seperti apakah AKU yang tidak nampak ini? Dari mana datangnya? Mengapa kok bisa ada disini? Disaat ini, dan bukannya di tempat lain yang lebih ‘enak’?
Kenapa koq malah memakai ‘baju’(badan) ini, dan bukannya ‘baju’(badan) yang lebih cantik, lebih sempurna? Trus, mau apa AKU ini disini?

Untuk menjawab pertanyaan2 itu, terpaksa harus masuk ke teori  spiritual.
Spiritual , bukan agama. Agama adalah salah satu pintu/jalan, menuju dunia spiritual. Ada banyak sekali pintu/jalan, mungkin sebanyak orang didunia ini.
Dan tiap orang mendapatkan pintunya sendiri2. Tergantung, apakah dia mau memasukinya atau tidak. Pilihan bebas. Free will.
Banyak orang sudah puas dengan memasuki satu pintu, tapi bagi saya yang ingin mendapatkan jawaban2, saya harus masuk lebih dalam lagi.
Sekarang marilah kita lihat jawaban2 yang saya dapatkan.

Seperti apakah AKU yang sebenarnya?
Semua agama dan kepercayaan mengatakan itu adalah ROH. Hinduisme mengatakan seperti etheric body. Monotheisme lain mengatakan roh itu seperti zat yang maha tinggi.
Darimana datangnya?

Semua mengatakan dari suatu sumber keadaan, sumber energi, sumber cahaya, atau biasa disebut God. Kristen mengatakan, roh yang ditiupkan Allah kedalam diri kita. Hinduisme mengatakan semacam percikan zat. Analoginya , misalkan Allah adalah air dari 7 lautan, maka kita adalah air juga, tapi Cuma setitik.
Misalkan Allah adalah angin yang bertiup antar benua, maka kita adalah angin juga, tapi Cuma angin hasil kipas2 saja.
Tapi jangan terpaku pada zat yang kita kenal saja. Karena yang kita sebut Allah itu, artinya dalam bahasa arab adalah The Great Nothing.
Dalam Hinduism dikatakan; Demi pengertian manusia saja kita memberi nama kepada wujud Tuhan, tetapi sesungguhnya ia tidak berwujud, namun ia mengambil sebuah wujud, sehingga kita dapat mengenalNya.
Atau dalam Tao Te Ching dikatakan; The name that can be named is not the eternal name.’

Lalu, mengapa bisa ada disini, di saat ini?
Mau apa kita disini?
Per tama2, harus diingat bahwa dalam dunia spiritual, dimensi bukan hanya 3 seperti dalam dunia kita. Ada banyak dimensi2 lainnya.
Harus diingat juga bahwa dimensi ruang dan waktu, itu hanya ada di otak kita yang terbatas.

Lewat Hinduism & Budhism, dikenal namanya reinkarnasi. Perlu diingat bahwa reinkarnasi ini bukanlah dimensi nyata, tetapi lebih merupakan teori yang bisa menjelaskan, menjawab berbagai pertanyaan yang tidak terjawab.
Dikatakan bahwa kita ada disini, lahir disini, menjadi laki2 atau perempuan atau apapun, adalah pilihan jiwa kita.
Itu juga menjelaskan pertanyaan banyak orang, mengapa bayi yang baru lahir koq sudah menderita penyakit berat, beberapa hari kemudian meninggal?
Itu karena pilihan jiwanya.
Karma kita adalah pilihan jiwa kita. Kita tidak akan pernah mengerti kenapa jiwa memilih hal ini.

Menurut teori reinkarnasi, hal itu karena berhubungan dengan kehidupan kita sebelumnya. Ada karma yang harus kita bayar untuk kehidupan sebelumnya. Kita membayar karma dengan banyak berdarma.(berbuat kebajikan).

Menurut Rumi, seorang sufi besar, kita ini ibaratnya Cuma seruling, bambu yang kosong, ber lubang2 (banyak kekurangan nya), dan terserah Sang Peniup seruling, mau memainkan lagu apa, lagu sedih, gembira, kita tidak berhak bertanya.
Pemikir besar, St Agustinus mengatakan, kita ini  Cuma puppet/boneka, tergantung Sang Dalang, mau memainkan lakon apa.
Hal ini juga diyakini oleh banyak aliran kepercayaan & kejawen di Jawa.

Essensinya, sama dengan pemikiran Zen, hidup bergulir seperti air, jalankan saja apa yang ada didepan.
Seperti juga dalam Bhagawad Gita. Disitu diceritakan bahwa arjuna sedang gundah gulana, mengalami pergulatan batin. Bagaimana mungkin ia harus maju ke medan perang dan membunuhi saudara2 sepupunya, guru2 yang dikasihinya? Hal itu bertentangan dengan pikirannya.
Disitulah batara kresna, seorang titisan dewa memberikan penerangannya;
‘ Bukan engkau arjuna yang akan membunuh para kesatria itu, tetapi AKU, engkau hanyalah alat bagiKU untuk bertindak’.
(itu hanya esensi nya saja, aslinya, sepanjang Bhagawad Gita )
Dalam bahasa Rabiah Al Adawiyah, seorang sufi perempuan yang mashur,
‘Berikanlah daku Cinta supaya pasrah dan ridho kepada kehendakMU’